Berita

Jurnal Riset Daerah edisi Khusus kerjasama dengan UAD

Senin Legi, 27 November 2017 14:19 WIB 1891

foto
Agus Budiantoro, Dosen Program Studi Biologi, FMIPA, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta sebagai penyaji pertama, membahas tentang “Zonasi Pantai Pendaratan Penyu di Sepanjang Pantai Bantul”.

Pada Hari Selasa (21/11/2017) lalu, Pemerintah Kabupaten Bantul menyelenggarakan acara  presentasi Jurnal Riset Daerah (JRD) Edisi Khusus Tahun 2017 dengan penyaji yang berasal dari Akademisi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Acara ini dilaksanakan di Gedung Induk Parasamya Bantul dengan dibuka oleh Tlau Sakti Santosa, S.S., M.Hum selaku Kepala Bidang Pengendalian, Penelitian, dan Pengembangan Bappeda Kabupaten Bantul dan dimoderatori oleh Drs. Suwandi, M.Si selaku Analis Hasil Penelitian sekaligus Tim Redaksi JRD Edisi Khusus Tahun 2017.

Dalam Acara Presentasi JRD Edisi Khusus Tahun 2017 ini dihadiri oleh OPD di Wilayah Kabupaten Bantul, Perwakilan Kecamatan, Kelurahan, Puskesmas, Guru Bidang Studi Biologi SMA, serta Guru Bidang Studi Bahasa Indonesia SMP. Berikut ringkasan materi presentasi JRD Edisi Khusus Tahun 2017:

Agus Budiantoro, Dosen Program Studi Biologi, FMIPA, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta sebagai penyaji pertama, membahas tentang “Zonasi Pantai Pendaratan Penyu di Sepanjang Pantai Bantul”. Dalam sajiannya, Agus Budiantoro mengungkapkan bahwa sejak tahun 2000, Kabupaten Bantul memiliki lokasi konservasi sebanyak 4, Coverage Area sebanyak 8, 35 Zona Pendaratan, dan 106 kali pendaratan penyu. Disimpulkan bahwa kesukaan penyu mendarat di Pantai Wilayah Bantul ini dapat dilihat dari area dengan kemiringan pantai di bawah 8o dan lebar pantai di atas 10 meter.

Program Pengembangan Eko-Eduwisata Mangrove Menuju Konservasi Taman Pesisir di Kabupaten Bantul” yang merupakan materi kedua dari penulis Trikinasih Handayani dan Dedi Wijayanti, adalah salah satu program inisiasi KKN PPM UAD. Dalam pelaksanaannya, KKN PPM UAD ini menyelenggarakan pelatihan-pelatihan untuk masyarakat; menyediakan 1000 batang mangrove, bibit ikan dan pakan, bibit tanaman buah dan toga serta sarana prasarana berupa kolam terpal, keramba jaring, solar panel, pembangunan green house, pembangunan dermaga mini Pantai Baros dan jembatan bambu di kawasan konservasi. Kelompok KKN yang menggandeng masyarakat dalam pelaksanaan programnya ini, juga mendesain data yang akan ditampilkan dalam website KP2B sebagai media promosi eko eduwisata mangrove; merancang dan membuat media promosi berupa brosur; melakukan pembersihan sampah di kawasan konservasi; dan menyediakan buku bacaan anak yang bertema lingkungan. Diharapkan program inisiasi ini dapat dilanjutkan berbagai pihak agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjadikan wilayah konservasi sebagai minat khusus yang bernilai edukatif.

Presentasi Ketiga yang berjudul “Analisis Vegetasi Strata Semak di Zona Inti Gumuk Pasir Desa Parangtritis Kecamatan Kretek Kabupaten Bantul Yogyakarta sebagai Sumber Belajar Biologi SMA Kelas X” oleh Elif Oktavianto dan Trikinasih Handayani, mengungkapkan bahwa di zona inti gumuk pasir Desa Parangtritis ditemukan 16 jenis vegetasi strata semak. Jenis vegetasi strata semak dengan INP tertinggi yaitu Sida acuta Burm.f. (93,09 %) dan INP terendah yaitu Urena lobata L. (0,66 %). Indeks keanekaragaman jenis vegetasi strata semak tergolong rendah berkisar antara 0,38-0,80. Ditinjau dari beberapa aspek, pengkajian ini memenuhi kriteria sebagai sumber belajar biologi SMA kelas X pada materi pembelajaran keanekaragaman hayati tingkat jenis.

Pada presentasi keempat dengan penelitian berjudul “Inovasi Wedang Uwuh yang Memiliki Khasiat untuk Penderita Hipertensi dan Diabetes Melitus” oleh Septian Emma D.J., Kintoko, dan Khoiriyah Isni bertujuan untuk mempublikasikan hasil pelatihan dan pendampingan masyarakat berupa Teh Celup “Weduri” Wedang Uwuh Wukirsari. Teh Celup yang memiliki nilai kesehatan ini dikembangkan dengan kemasan lebih menarik dan lebih hygiene sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan produksi yang semula hanya Rp 1.500,00/bungkus menjadi Rp 15.000/bungkus.

Presentasi terakhir yang disajikan oleh Dedi Wijayanti dengan judul “Pengembangan Profesi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia Berbasis Kearifan Lokal (Sebuah Alternatif Upaya Mewujudkan Gerakan Literasi Sekolah)” bertujuan untuk mewujudkan pembelajaran sepanjang hayat yang sejatinya dapat dimulai dan dibiasakan sejak dini. Guru Bahasa dan Sastra Indonesia diharapkan dapat menjadi teladan dalam hal membaca dan menulis dengan terus menerus berkarya.

Artikel dan video presentasi dapat di lihat di jrd.bantulkab.go.id

(by. cit & heru5578)