Menghubungkan Potensi Riset Dengan Kebutuhan Daerah, Bantul Dorong Kolaborasi Melalui Konsorsium SSTY 2026
Yogyakarta -- Pemerintah Kabupaten Bantul turut berpartisipasi dalam kegiatan Sarasehan Sains dan Teknologi Yogyakarta (SSTY) 2026 dengan tema ”Akselerasi Inovasi Mendedikasikan Sains dan Teknologi untuk Kemajuan Yogyakarta”. Forum ini diselenggarakan oleh LLDikti Wilayah V Kemdiktisaintek pada Rabu, 9 September 2026 di Rich Hotel Yogyakarta. SSTY 2026 menjadi wadah strategis untuk mempertemukan kebutuhan pembangunan daerah dengan potensi riset dan inovasi yang dimiliki perguruan tinggi. Forum ini menghadirkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia industri, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mengoptimalkan kontribusi sains dan teknologi bagi pembangunan di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Gubernur DIY, Pemprov DIY, OPD Pemkab/Pemkot se-DIY, Pimpinan PTN/PTS se-DIY, serta 1100 pakar doktor dan profesor dari PTN/PTS se-DIY. Kepala LLDikti Wilayah V, Prof. Setyabudi Indartono menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan momentum strategis untuk menguatkan posisi Yogyakarta sebagai pusat inovasi dan tempat peruruan tinggi sebagai motor penggerak pembangunan bangsa. SSTY hadir sebagai wadah saintek dan inovator untuk mempercepat pembangunan bangsa melalui konsorsioum PTN/PTS se DIY.
Dalam sambutannya, Gubernur DIY menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki ketajaman analisis, pengetahuan, metodologi dan daya kritis sementara pemerintah daerah memiliki data persoalan dan ruang kebijakan. Pertemuan kedua kapasitas tersebut diperlukan agar riset dapat digunakan untuk membantu pemerintah dalam mengambil keputusan yang tepat. “Sesi pleno nanti dapat dimanfaatkan sebagai link and match antara persiapan riil di lapangan dengan kapasitas riset perguruan tinggi” ujarnya.
Dalam sambutannya, Wakil Menteri Diktisaintek menyampaikan bahwa konsorsium lahir dari pengakuan bahwa tidak ada satu perguruan tinggi pun yang dapat menyelesaikan permasalahan daerah sendirian. “Semua butuh kolaborasi multipihak. Ketika kemauan dan kemampuan Perguruan Tinggi bertemu dengan kebutuhan daerah dalam ekosistem pembangunan, maka akan ada ‘jalan pulang’ riset untuk kembali ke masyarakat,” tegasnya.
Pemaparan 6 Klaster Isu Strategis Kabupaten Bantul
Pada sesi breakout room, Kepala Bappeda Kabupaten Bantul Ari Budi Nugroho, ST., M.Sc memaparkan isu strategis Pembangunan Kab Bantul. Sesi breakoutroom menjadi wadah bagi pemerintah daerah dengan perguruan tinggi untuk membahas isue pembangunan yang lebih detail sesuai dengan kebutuhan. Pada kesempatan yang sama, masing-masing leading sektor memaparkan arah kesepakatan kolaborasi dari perguruan tinggi dengan Kabupaten Bantul yang terbagi dalam 6 klaster meliputi :
- Klaster Budaya dan Pariwisata
Leading Sector : Universitas Atma Jaya Yogyakarta | OPD: Disbud & Dinas Pariwisata
- Klaster IKM dan Kewirausahaan
Leading Sector : ISI Yogyakarta | OPD: DKUKMPP
- Klaster Kesehatan Remaja
Leading Sector : Universitas Sanata Dharma | OPD: DP3AP2KB
- Klaster Ketahanan Iklim
Leading Sector : UGM | OPD: DLH & BPBD
- Klaster Lingkungan
Leading Sector : UAD | OPD: DLH
- Klaster Penyakit Tidak Menular
Leading Sector : UNISA | OPD: Dinas Kesehatan
Mendorong Riset yang Berdampak Nyata
Pemerintah Kabupaten Bantul berharap hasil dari konsorsium ini dapat berkelanjutan. Kolaborasi yang terbangun tidak hanya berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi dapat dikembangkan menjadi riset dan inovasi yang memberikan solusi serta manfaat nyata bagi pembangunan dan masyarakat Bantul. Dengan terhubungnya potensi riset perguruan tinggi dan kebutuhan daerah, Kabupaten Bantul optimis dapat memperkuat jejaring kerjasama dan mewujudkan akselerasi pembangunan berbasis bukti, data dan inovasi.


